Bulan
Mei 2014 adalah bulan yang cukup
“menantang” bagi kami sebagai pekerja pada salah satu
bank BUMN yang ditugaskan di luar Kota Palu, tepatnya di Desa Tompe yang berjarak sekitar 1 jam 45
menit dari palu. Bagaimana tidak, dibulan
tersebut terdapat empat tanggal merah yang kesemuanya jatuh pada hari selasa dan kamis, sehingga agak sulit kami
manfaatkan untuk pulang ke palu sebagaimana yang rutin kami lakukan setiap
jumat sore. Namun dengan tekad yang membara dan kerjasama yang baik, tanggal
merah pertama yang jatuh pada hari kamis (1 Juli) berhasil kami lalui di palu.
Demikian pula tanggal merah kedua yang jatuh pada hari kamis tanggal 15 juli,
kamipun melewatinya di palu. Hmmm, seandainya saja kedua tanggal merah tadi
jatuh pada hari kamis atau senin, betapa bahagianya hidup ini, karena waktu
libur reguler (sabtu & minggu) kami bisa bertambah. Namun apa daya, kami
tak mampu merubah kenyataan yang ada.
Dua tanggal merah berikutnya
yang betul-betul membuat kami pusing. Bagaimana tidak, tanggal merah pertama
jatuh pada hari selasa tanggal 27, dan berikutnya hari kamis tanggal 29.
Seandainya kami melakukan seperti dua tanggal merah sebelumnya (tgl 1 & 15),
yaitu “merayakannya” di palu, dapat dipastikan kami harus ekstra-ekstra kuat.
Bagaimana tidak, kami yang biasanya berangkat dari palu hari senin jam 05:30
pagi dan tiba jam 7:15, harus balik lagi ke palu pada sore hari. Demikian pula hal
itu harus kami lakukan pada hari rabu dan hari jumat. Seminggu tiga kali
pergi-pulang sepertinya agak sulit diterima oleh kemampuan tubuh kami. Walaupun
kedengarannya agak lebay, namun faktanya kami harus menjaga fisik dan stamina
mengingat pekerjaan kami membutuhkan konsentrasi dan terkadang stamina yang
prima.
Jarak Palu-Tompe 90 KM dengan
medan jalan melewati beberapa pegunungan kecil. Total tiga kali PP menjadi 540
KM. Oh iya, perjalanan tersebut kami tempuh dengan motor dan hanya bos kami
saja yang menggunakan mobil (namanya juga bos). Biasanya sih kalau ada libur
terjepit, kami pergi bersama, namun akhir-akhir ini bos kami sering pulang
lambat akibat banyak kesibukan dan tugas-tugas baru.
Setelah merenung, mengingat
dan mempertimbangkan (waduh kayak SK aja), akhirnya kami memutuskan untuk libur
hari selasa tanggal 27, kami akan melakukan wisata dengan alternatif menginap
di wilayah pantai sekitar kantor kami.
TIM
PENDAHULUAN
Jarum jam baru saja
menunjukkan pukul 2 siang ketika bos kami (Risdi Handaya) memberi perintah
untuk melakukan pengamatan dan pemantauan intelijen (kayak mau perang aja nih…)
ke lokasi yang sekiranya pantas untuk dijadikan tempat wisata. Tidak berapa
lama, saya dan seorang rekan (Dani) langsung meluncur dengan menggunakan motor
honda megapro DN 5491 VD. Tujuan awal kami adalah desa walandano yang terletak
di wilayah Kecamatan Balaesang Tanjung , dimana kami akan melakukan survei
terhadap salah satu pantai yang menurut kami cukup indah dengan hamparan
pemandangan yang dapat menenangkan jiwa. Setelah berjalan sekitar 40 menit,
kamipun tiba dilokasi pantai tersebut.
Pantai Walandano
Pantai Walandano
Keunggulan pantai ini selain
pemandangannya yang indah, juga terletak dekat dengan pemukiman penduduk,
sehingga kami tidak kesulitan untuk mencari air bersih sebagai pembilas (tapi
harus lapor dulu) dan meminta pertolongan seandainya tiba-tiba ada buaya atau
hiu menyerang (hehehe…. agak ekstrem dikit donk). Setelah mengamati beberapa
saat, perjalanan kami lanjutkan menuju kerumah “sekutu” kami (sory pake istilah
militer lagi) yang bernama Abram Areros (AA). Kami meminta pertimbangan beliau
terkait rencana kami, dan beliau oke-oke aja, namun beliau juga menyarankan
untuk mempertimbangkan satu pantai indah yang terletak tidak jauh dari tempat
tersebut. Kami pun menerima saran itu, dan tidak berapa lama kemudian kami
bertiga sudah “take off” menuju TKP yang ke dua.
Mulailah kami menembus
belantara balaesang tanjung, melewati jalanan berkelok dengan medan yang
“ngeri-ngeri sedap”, sebelah kiri jurang dan laut, sebelah kanan tebing dan
hutan yang sayangnya sudah tidak “perawan” lagi.
Pemandangan menuju TKP 2
Jalan menuju TKP 2
Lima belas menit kemudian kami
tiba di tempat yang kelihatannya tidak menunjukkan tanda-tanda keindahan alam karena
hanya berupa hutan kecil yang cukup berjurang di tepian pantai. Bung AA segera
melangkahkan kaki memasuki hutan kecil tersebut diikuti oleh kami.
Kehati-hatian harus kami miliki saat menuruni jurang tersebut, dikarenakan
jalanan cukup licin dan sering harus membuat jalan baru. Sekitar seratus meter melangkah,
nampak dihadapan kami hamparan pasir putih yang sangat indah dan lembut. Lautan
lepas terhampar di hadapan kami seolah menyambut dengan orkestra yang hadir
dalam buih-buih gelombang yang memecah pantai. “sungguh indah pemandangan ini”
gumamku dalam hati. Namun dibalik semua itu, kami merasa tempat ini kurang aman
dan memadai dikarenakan menghadap ke lautan lepas, sehingga ombak yang
dihasilkan cukup tinggi. Selain itu, seandainya kami menginap, motor harus
diletakkan ditepi jalan yang jauh dari jangkauan kami sehingga kurang aman.
Meskipun kami yakin masyarakat sekitar situ baik-baik namun tidak ada salahnya
kami melakukan antisipasi sejak dini. Lokasi rumah warga juga cukup jauh dan
disekitar situ tidak terdapat sungai guna keperluan air tawar (pastinya bukan
buat air minum). Namun tempat ini masih bisa menjadi salah satu opsi sekalipun
peluangnya menurut saya sangat kecil. Sayangnya saat itu saya lupa untuk
mengambil gambar di tempat ini.
Setelah mengamati beberapa
saat, kami lalu kembali ke rumah bung AA untuk kemudian bercakap-cakap sebentar
lalu kemudian pamit untuk kembali ke kantor. Dalam perjalanan pulang yang juga
melewati medan yang cukup berat, sesekali kami berpapasan dengan biawak maupun
ular yang sedang menyeberang. Bahkan dikesempatan yang lain, kami pernah hampir
menabrak monyet besar yang mirip babon, yang secara tiba-tiba memotong didepan
kami.
Dalam perjalanan pulang, saya
dengan Dani membahas kedua tempat tadi, dan sepertinya kami berdua sepakat
untuk mengesampingkan tempat yang kedua dan menyisakan satu pilihan tunggal
yang kemudian akan kami bawa ke dalam rapat paripurna (ceileee, kayak anggota
dewan aje nih….).
Meskipun pilihan yang tersedia
hanya satu, namun diantara kami seolah belum ada yang sangat yakin memilih
tempat pertama tadi. Waduh keadaan menjadi genting dikarenakan misi kami
sebagai tim survei terancam gagal mencari tempat untuk rekreasi. Dalam
kegentingan ini, entah mengapa tiba-tiba terbesit dalam pikiran, salah satu
pantai pasir putih yang letaknya lebih dekat dari kedua pantai tadi, dan
memiliki keindahan melebihi kedua pantai tadi. Pantai tersebut terletak di desa
labuana.
Tidak butuh lama untuk minta
persetujuan dari co-joki (meminjam istilah co-pilot) untuk melakukan survei ke
pantai tersebut. Dan sepuluh menit kemudian kamipun telah tiba di pantai
tersebut dan melakukan pengamatan. Tanpa diskusi yang panjang lebar, saya dan
Dani sepakat untuk mengajukan calon tunggal ini, yaitu pantai labuana untuk di
minta persetujuan pimpinan kami dan terutama teman-teman lain, sebagai tempat
rekreasi kami pada hari selasa. Salah satu faktor yang membuat kami sedikit
berkecil hati pada tempat ini adalah medan yang sekalipun tidak terlalu jauh,
namun di beberapa titik memberikan tantangan yang cukup ekstrim dan membutuhkan
kecakapan khusus dalam berkendara. Namun secara umum, tempat ini adalah tempat
yang ideal.
Kamipun segera kembali ke
kantor dan melaporkan hasil pengamatan kepada pimpinan dan rekan kerja lain
untuk dimintakan tanggapan. Presentasi singkat oleh saya dan Dani berhasil
meyakinkan pimpinan dan teman-teman lain untuk menyetujui tempat ini. Namun keputusan
apakah harus menginap atau tidak masih belum mencapai titik temu, dikarenakan
terdapat perbedaan pendapat disertai argumen-argumen yang kedengarannya masuk
akal dan perlu untuk dipertimbangkan. Mengingat hari sudah semakin sore dan
kami semua akan kembali ke palu, maka penentuan menginap atau tidak kami tunda
hingga hari senin. Dan kamipun balik ke palu (all crew take off position….)
Pantai Labuana (saat pasang)
BERSAMBUNG ........



