Sabtu, 25 Juli 2015



LABUANA BEACH……




Bulan Mei 2014 adalah bulan yang cukup “menantang” bagi kami sebagai pekerja pada salah satu bank BUMN yang ditugaskan di luar Kota Palu, tepatnya di Desa Tompe yang berjarak sekitar 1 jam 45 menit dari palu. Bagaimana tidak, dibulan tersebut terdapat empat tanggal merah yang kesemuanya jatuh pada hari selasa dan kamis, sehingga agak sulit kami manfaatkan untuk pulang ke palu sebagaimana yang rutin kami lakukan setiap jumat sore. Namun dengan tekad yang membara dan kerjasama yang baik, tanggal merah pertama yang jatuh pada hari kamis (1 Juli) berhasil kami lalui di palu. Demikian pula tanggal merah kedua yang jatuh pada hari kamis tanggal 15 juli, kamipun melewatinya di palu. Hmmm, seandainya saja kedua tanggal merah tadi jatuh pada hari kamis atau senin, betapa bahagianya hidup ini, karena waktu libur reguler (sabtu & minggu) kami bisa bertambah. Namun apa daya, kami tak mampu merubah kenyataan yang ada.
Dua tanggal merah berikutnya yang betul-betul membuat kami pusing. Bagaimana tidak, tanggal merah pertama jatuh pada hari selasa tanggal 27, dan berikutnya hari kamis tanggal 29. Seandainya kami melakukan seperti dua tanggal merah sebelumnya (tgl 1 & 15), yaitu “merayakannya” di palu, dapat dipastikan kami harus ekstra-ekstra kuat. Bagaimana tidak, kami yang biasanya berangkat dari palu hari senin jam 05:30 pagi dan tiba jam 7:15, harus balik lagi ke palu pada sore hari. Demikian pula hal itu harus kami lakukan pada hari rabu dan hari jumat. Seminggu tiga kali pergi-pulang sepertinya agak sulit diterima oleh kemampuan tubuh kami. Walaupun kedengarannya agak lebay, namun faktanya kami harus menjaga fisik dan stamina mengingat pekerjaan kami membutuhkan konsentrasi dan terkadang stamina yang prima.
Jarak Palu-Tompe 90 KM dengan medan jalan melewati beberapa pegunungan kecil. Total tiga kali PP menjadi 540 KM. Oh iya, perjalanan tersebut kami tempuh dengan motor dan hanya bos kami saja yang menggunakan mobil (namanya juga bos). Biasanya sih kalau ada libur terjepit, kami pergi bersama, namun akhir-akhir ini bos kami sering pulang lambat akibat banyak kesibukan dan tugas-tugas baru.
Setelah merenung, mengingat dan mempertimbangkan (waduh kayak SK aja), akhirnya kami memutuskan untuk libur hari selasa tanggal 27, kami akan melakukan wisata dengan alternatif menginap di wilayah pantai sekitar kantor kami.
 
TIM PENDAHULUAN
Jarum jam baru saja menunjukkan pukul 2 siang ketika bos kami (Risdi Handaya) memberi perintah untuk melakukan pengamatan dan pemantauan intelijen (kayak mau perang aja nih…) ke lokasi yang sekiranya pantas untuk dijadikan tempat wisata. Tidak berapa lama, saya dan seorang rekan (Dani) langsung meluncur dengan menggunakan motor honda megapro DN 5491 VD. Tujuan awal kami adalah desa walandano yang terletak di wilayah Kecamatan Balaesang Tanjung , dimana kami akan melakukan survei terhadap salah satu pantai yang menurut kami cukup indah dengan hamparan pemandangan yang dapat menenangkan jiwa. Setelah berjalan sekitar 40 menit, kamipun tiba dilokasi pantai tersebut.

Pantai Walandano

Pantai Walandano


Keunggulan pantai ini selain pemandangannya yang indah, juga terletak dekat dengan pemukiman penduduk, sehingga kami tidak kesulitan untuk mencari air bersih sebagai pembilas (tapi harus lapor dulu) dan meminta pertolongan seandainya tiba-tiba ada buaya atau hiu menyerang (hehehe…. agak ekstrem dikit donk). Setelah mengamati beberapa saat, perjalanan kami lanjutkan menuju kerumah “sekutu” kami (sory pake istilah militer lagi) yang bernama Abram Areros (AA). Kami meminta pertimbangan beliau terkait rencana kami, dan beliau oke-oke aja, namun beliau juga menyarankan untuk mempertimbangkan satu pantai indah yang terletak tidak jauh dari tempat tersebut. Kami pun menerima saran itu, dan tidak berapa lama kemudian kami bertiga sudah “take off” menuju TKP yang ke dua.
Mulailah kami menembus belantara balaesang tanjung, melewati jalanan berkelok dengan medan yang “ngeri-ngeri sedap”, sebelah kiri jurang dan laut, sebelah kanan tebing dan hutan yang sayangnya sudah tidak “perawan” lagi.


 Pemandangan menuju TKP 2
 Jalan menuju TKP 2


Lima belas menit kemudian kami tiba di tempat yang kelihatannya tidak menunjukkan tanda-tanda keindahan alam karena hanya berupa hutan kecil yang cukup berjurang di tepian pantai. Bung AA segera melangkahkan kaki memasuki hutan kecil tersebut diikuti oleh kami. Kehati-hatian harus kami miliki saat menuruni jurang tersebut, dikarenakan jalanan cukup licin dan sering harus membuat jalan baru. Sekitar seratus meter melangkah, nampak dihadapan kami hamparan pasir putih yang sangat indah dan lembut. Lautan lepas terhampar di hadapan kami seolah menyambut dengan orkestra yang hadir dalam buih-buih gelombang yang memecah pantai. “sungguh indah pemandangan ini” gumamku dalam hati. Namun dibalik semua itu, kami merasa tempat ini kurang aman dan memadai dikarenakan menghadap ke lautan lepas, sehingga ombak yang dihasilkan cukup tinggi. Selain itu, seandainya kami menginap, motor harus diletakkan ditepi jalan yang jauh dari jangkauan kami sehingga kurang aman. Meskipun kami yakin masyarakat sekitar situ baik-baik namun tidak ada salahnya kami melakukan antisipasi sejak dini. Lokasi rumah warga juga cukup jauh dan disekitar situ tidak terdapat sungai guna keperluan air tawar (pastinya bukan buat air minum). Namun tempat ini masih bisa menjadi salah satu opsi sekalipun peluangnya menurut saya sangat kecil. Sayangnya saat itu saya lupa untuk mengambil gambar di tempat ini.
Setelah mengamati beberapa saat, kami lalu kembali ke rumah bung AA untuk kemudian bercakap-cakap sebentar lalu kemudian pamit untuk kembali ke kantor. Dalam perjalanan pulang yang juga melewati medan yang cukup berat, sesekali kami berpapasan dengan biawak maupun ular yang sedang menyeberang. Bahkan dikesempatan yang lain, kami pernah hampir menabrak monyet besar yang mirip babon, yang secara tiba-tiba memotong didepan kami.
Dalam perjalanan pulang, saya dengan Dani membahas kedua tempat tadi, dan sepertinya kami berdua sepakat untuk mengesampingkan tempat yang kedua dan menyisakan satu pilihan tunggal yang kemudian akan kami bawa ke dalam rapat paripurna (ceileee, kayak anggota dewan aje nih….).
Meskipun pilihan yang tersedia hanya satu, namun diantara kami seolah belum ada yang sangat yakin memilih tempat pertama tadi. Waduh keadaan menjadi genting dikarenakan misi kami sebagai tim survei terancam gagal mencari tempat untuk rekreasi. Dalam kegentingan ini, entah mengapa tiba-tiba terbesit dalam pikiran, salah satu pantai pasir putih yang letaknya lebih dekat dari kedua pantai tadi, dan memiliki keindahan melebihi kedua pantai tadi. Pantai tersebut terletak di desa labuana.
Tidak butuh lama untuk minta persetujuan dari co-joki (meminjam istilah co-pilot) untuk melakukan survei ke pantai tersebut. Dan sepuluh menit kemudian kamipun telah tiba di pantai tersebut dan melakukan pengamatan. Tanpa diskusi yang panjang lebar, saya dan Dani sepakat untuk mengajukan calon tunggal ini, yaitu pantai labuana untuk di minta persetujuan pimpinan kami dan terutama teman-teman lain, sebagai tempat rekreasi kami pada hari selasa. Salah satu faktor yang membuat kami sedikit berkecil hati pada tempat ini adalah medan yang sekalipun tidak terlalu jauh, namun di beberapa titik memberikan tantangan yang cukup ekstrim dan membutuhkan kecakapan khusus dalam berkendara. Namun secara umum, tempat ini adalah tempat yang ideal.
Kamipun segera kembali ke kantor dan melaporkan hasil pengamatan kepada pimpinan dan rekan kerja lain untuk dimintakan tanggapan. Presentasi singkat oleh saya dan Dani berhasil meyakinkan pimpinan dan teman-teman lain untuk menyetujui tempat ini. Namun keputusan apakah harus menginap atau tidak masih belum mencapai titik temu, dikarenakan terdapat perbedaan pendapat disertai argumen-argumen yang kedengarannya masuk akal dan perlu untuk dipertimbangkan. Mengingat hari sudah semakin sore dan kami semua akan kembali ke palu, maka penentuan menginap atau tidak kami tunda hingga hari senin. Dan kamipun balik ke palu (all crew take off position….)


 Pantai Labuana (saat pasang)

  BERSAMBUNG ........